Bekasi, 3 Oktober 2025, lemtvbekasi.id – DPD FSP LEM SPSI Jawa Barat yang dipimpin oleh Ketua Muhamad Sidarta, bersama Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) di bawah kepemimpinan Ketua Umum Moh. Jumhur Hidayat, sukses menggelar Seminar Industri Manufaktur Nasional 2025 di Grand Travello Hotel Kota Bintang, Bekasi. Acara yang berlangsung selama tiga jam, pukul 13.00 – 16.00 WIB, menghadirkan ratusan peserta dari unsur serikat pekerja, pemerintah, akademisi, dan pengusaha.
 
Pemilihan lokasi di Bekasi dinilai tepat karena Jawa Barat, khususnya koridor Karawang–Bekasi, merupakan kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Wilayah ini menjadi episentrum manufaktur Indonesia yang menyerap jutaan tenaga kerja.
 
Tema dan Latar Belakang,
 
Seminar kali ini mengangkat tema “Industri Manufaktur Indonesia Terkini : Menavigasi Tantangan dan Peluang Berdasarkan Indeks PMI”. Industri manufaktur diketahui berkontribusi 18,67% terhadap PDB nasional pada kuartal I 2025 dan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar kedua setelah sektor pertanian.
 
Namun, data menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia mengalami kontraksi dengan angka di bawah 50 pada periode April–Juli 2025. Kondisi ini berdampak pada perlambatan produksi, penurunan ekspor, hingga peningkatan pemutusan hubungan kerja (PHK). Bahkan, klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) naik 32,1%, mencapai lebih dari 42 ribu kasus pada semester pertama 2025.
 
Keynote Speech dan Narasumber,
 
Sebagai Keynote Speaker, Menteri Tenaga Kerja RI Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D. menegaskan pentingnya kebijakan ketenagakerjaan yang adaptif, peningkatan kualitas SDM, serta peran pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara perlindungan pekerja dan daya saing industri.
 
Diskusi lebih dalam disampaikan oleh para narasumber:
 
1. Dr. M. Rizal Taufikurahman (INDEF) – tren jangka panjang PMI, riset teknologi, dan peran pendidikan.
2. Bob Azam (DPN APINDO) – strategi adaptasi pengusaha dalam menghadapi volatilitas pasar global.
3. Moh. Jumhur Hidayat (KSPSI) – pentingnya peran serikat pekerja dalam menjamin kepastian kerja dan kesejahteraan.
4. Prof. Drs. Anwar Sanusi, MPA., Ph.D (Kemnaker) – arah kebijakan ketenagakerjaan untuk menekan PHK massal.
5. Eko S.A. Cahyanto, SH., LL.M. (Kemenperin) – kebijakan industri, insentif fiskal, serta regulasi untuk memperkuat daya saing manufaktur.
 
Rekomendasi Utama Seminar,
 
Dari hasil diskusi, forum merumuskan sejumlah rekomendasi penting, antara lain:
 
Pemberian insentif fiskal untuk mendukung produksi dan investasi baru.
Penyederhanaan akses JKP sekaligus pencegahan PHK massal.
Upskilling dan reskilling pekerja menghadapi era teknologi baru.
Kolaborasi multipihak guna memastikan keberlanjutan industri.
Transformasi ke arah green industry, inovasi, dan otomasi rantai pasok.
Pembentukan forum permanen pemantau tren PMI untuk merumuskan kebijakan adaptif.
Penguatan daya beli pekerja melalui upah layak dan perlindungan sosial.
 
Penutup,
 
Seminar ini menegaskan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga keberlangsungan industri manufaktur nasional. Sebagai inisiator, organisasi pekerja menekankan bahwa forum ini tidak hanya menjadi ajang refleksi, tetapi juga langkah awal membangun kolaborasi strategis jangka menengah dan panjang.
 
Dengan berbasis data Purchasing Managers’ Index (PMI) serta partisipasi aktif berbagai elemen, acara ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan industri nasional yang tangguh, adaptif, dan berpihak pada kesejahteraan pekerja, sekaligus siap menghadapi dinamika ekonomi global.